AMBON – Acara Pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional Pertama di Lapangan Merdeka, Kota Ambon berlangsung sangat meriah, penuh makna historis dan aktratif. Pembukaan yang berlangsung pada Sabtu (27/10) dihadiri 12 ribu peserta Pesparani dari 34 Provinsi dan masyarakat Maluku.

 

Misa pembukaan dihadiri delapan uskup dan langsung dipimpin oleh Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Ignatius Suharyo. Menariknya, meskipun acara ini merupakan acara keagamaan Katolik, panitia lokal Pesparani lebih banyak berasal dari umat beragama Muslim dan Kristen Protestan.

 

Bahkan Ketua Panitia Pesparani adalah seorang Kristen Protestan yang juga Wakil Gubernur Maluku Zeth Sahuburua.

Di tengah semarak acara Pembukaan Pesparani di Kota Musik ini, masyarakat Maluku sangat merindukan kehadiran Presiden Joko Widodo. Namun, sayangnya Presiden Jokowi tidak hadir, hanya hadir secara digital dan diwakilkan olen Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Salah satu yang mengaku kecewa atas ketidakhadiran Jokowi adalah Ketua Sinodo Gereja Protestan Maluku Pdt. A.J.S Werinusa. Menurut Werinusa, seharusnya Presiden Jokowi hadir, bukan saja untuk membuka acara, tetapi menyapa dan menyaksikan semangat persaudaraan masyarakat Maluku yang terwujud dalam penyelenggaraan Pesparani.

“Kita tentunya kecewa atas ketidakhadiran Presiden Jokowi di Pembukaan Acara Pesparani Katolik yang pertama ini,” ujar Werinussa di Kantor TVRI Ambong, Gunung Nona, Ambon, Senin (29/10).

Menurut Werinussa, nilai kehadiran sangat penting dan bermakna. Bagi dia, kehadiran Presiden Jokowi sebenarrnya bisa menunjukkan kecintaan Jokowi terhadap masyarakat Maluku.

“Akhirnya kita bertanya, apakah Jokowi sayang sama orang Maluku? Karena bukti sayang atau cinta, salah satunya adalah dengan kehadiran,” tandas dia.

Senada dengan itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Maluku Abdullah Latuapo mengaku kecewa dengan ketidakhadiran Presiden Jokowi di acara Pesparani. Meskipun Latuapo memaklumi dan memahami ketidakhadiran Jokowi.

“Awalnya, kita memang kecewa karena Presiden Jokowi tidak hadir di acara Pembukaan Pesparani. Namun, bisa terobati karena acara Pembukaan Pesparani berjalan sangat luar biasa dan semarak,” ungkap dia.

Latuapo menceritakan bagaimana tokoh-tokoh lintas agama berupaya agar Pesparani pertama dilaksanakan di Ambon dan Presiden Jokowi bisa hadir. Bersama Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi dan tokoh lintas agama, mereka bertemu Ketua KWI Mgr Suharyo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk mendukung acara Pesparani ini.

“Bahkan sehari sebelum acara Pembukaan Pesparani, pada Jumat (26/10) lalu, karena belum ada kabar Presiden hadir di pembukaan Pesparani, kami tokoh lintas agama rencana mau terbang ke Jakarta untuk meminta Presiden Jokowi hadir. Saya sudah siap, tetapi tidak jadi terbang ke Jakarta. Yah, kita maklumi saja, mungkin Presiden sedang sibuk dengan tugas-tugasnya,” ungkap dia.

Meskipun tidak terlalu berharap, Latuapo menginginkan Presiden Jokowi bisa menutup acara Pesparani pada Kamis, 1 November 2018 mendatang. Kalaupun bukan Presiden Jokowi, kata dia, minimal Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Acara Pesparani penting untuk menunjukkan bagaimana keragaman dan kemajemukan dihayati dan diwujudkan untuk memperkokoh identitas keindonesiaan kita. Dan Maluku telah membuktikan itu dengan menjadi laboratorium kerukunan umat beragama di Indonesia,” pungkas dia.

Sebagaimana diketahui, Pesparani Katolik Pertama diselenggarakan di Kota Ambon, Maluku selama sepekan, dari 27 Oktober 2018 hingga 2 November 2018. Dalam acara ini, diadakan 12 mata lomba, yang terdiri dari Paduan Suara, Cerdas Cermat, Baca Mazmur dan Bertutur Kitab Suci. Lomba ini diikuti oleh kontingen dari 34 Provinsi dari Aceh sampai Papua.

Selain perlombaan paduan suara, acara Pesparani akan diisi dengan seminar nasional, Expo Maluku 2018 (pemeran potensi dari 34 daerah) dan pentas seni dari masing-masing daerah.

Peserta lomba Pesparani berjumlah berjumlah 4.804 orang, undangan yang hadir 200 orang pendukung acara 989 orang, peserta ibadah, dewan juri, panitia pusat dan daerah, serta para penggembira kurang lebih 4.490 orang. Total yang hadir di acara Pesparani kurang lebih 12.000 orang.

Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN) dan panitia lokal di Maluku. LP3KN adalah lembaga yang direstui oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan difasilitasi oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan Pesparani secara periodik. (sp)

 

*sumber: http://id.beritasatu.com/home/tokoh-agama-maluku-kecewa/182092

Add Your Comment

@2023 Pesparani. All Rights Reserved.