Ini Kata Para Tokoh yang Membuka Seminar Nasional Pesparani Katolik di Ambon

admin Berita, Coding another tagyadaa yadaa
0

TRIBUNMANADO.CO.ID, AMBON – Seminar nasional dari Maluku untuk Indonesia, kita rawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang damai dan berkeadilan melalui budaya menyanyi dilaksanakan.

Kegiatan dalam rangka Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Nasional Katolik pertama di Ambon dibuka pagi tadi di Islamic Center.

Uskup Keuskupan Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi mengatakan budaya menyanyi sudah ada di Ambon.

Para nelayan terbiasa menyanyi lagu rohani saat mencari ikan.

Ketua Panitia Pesparani Katolik, Zeth Sahubura mengatakan Maluku merupakan laboratorium perdamaian.

Jika ingin perdamaian belajar di Maluku Ketua Lembaga Pengembangan dan Pembinaan Pesparani Nasional (LP3KN) Adrianus Meilala mengatakan walau lagunya sama, setiap paduan suara dari berbagai daerah membawakan lagu secara berbeda dalam Pesparani.

“Begitulah Indonesia. Berbeda tapi dalam satu harmoni,” katanya.

Gubernur Maluku Said Assagaff mengatakan multikulturalisme sudah menjadi bagian identitas Maluku.

Sudah sejak dulu Maluku menjadi bagian politik dagang asing mulai dari portugis.

“Banyak suku dan 117 buah dialek. Juga memiliki banyak keanekaragaman fam atau marga,” katanya.

Ia menyebut beberapa marga itu.

Bahkan katanya ada dari bahasa asing.

Ia lalu menegaskan kekerasan atas nama agama tidak dibenarkan.

Itu hanya menciptakan kekerasan.

“Tidak asa perdamaian dunia tanpa perdamaian antar agama. Tidak ada perdamaian antar agama jika tidak ada dialog antar agama,” ujarnya.

Maluku katanya telah peace building.

Ia meminta semua melihat masa lalu Maluku bukan untuk meratapi tapi melihat efeknya.

“Ekonomi minus 27 persen, sekolah hancur ada segregasi sekolah. Yang Kristen sekolah di daerah Kristen juga yang Islam begitu. Anak-anak kehilangan ruang untuk keberagaman. Bahkan satu instansi bisa memiliki empat kantor,” katanya.

Ia mengatakan konflik membuat ada segregasi sosial dan segregasi sosial mental.

Ruang perjumpaan tertutup.

“Anak-anak tidak memiliki memori kolektif. Yang ada in group bukan out grup,” katanya.

Ia mengatakan ada tantangan politik identitas saat konflik 1999-2003.

Diikuti stigma kolektif masa lalu ada musuh-musuh imajiner dengan teologi yang ekslusif dan penuh konflik.

“Tapi semua itu diubah semakin besarnya kegiatan lintas suku. Kami telah membuat MTQ 2012, Pesparawi 2015, kegiatan Muhamadiyah 2017,” ujarnya

Ia mengatakan kafilah MTQ yang tinggal di keuskupan bahkan menjadi juara dua nasional.

Uskup Mandagi katanya mengatakan menjaga mereka seperti berlian.

“Cari ikan tengah malam dan digoreng jika diminta. Cari pisang goreng dan lain-lain,” katanya.

Setelah menceritakan beberapa cerita lain, ia mengatakan sudah ada kelompok lintas profesi dan lintas agama. Sudah ada juga komunitas seperti Art of Peace.

“Saya ingin ada kampung multikultur. Semoga Maluku bukan sebagai laboratorium pasif tapi juga membangun kerukunan aktif,” katanya.

Ia tidak ingin ada penyakit double standart.

Jangan katanya ada labila (lapar bilang laeng) dan kabila (kanyang bilang laeng). (Tribun Manado/David Manewus)

Artikel ini telah tayang di tribunmanado.co.id dengan judul Ini Kata Para Tokoh yang Membuka Seminar Nasional Pesparani Katolik di Ambon, http://manado.tribunnews.com/2018/10/31/ini-kata-para-tokoh-yang-membuka-seminar-nasional-pesparani-katolik-di-ambon?page=2.
Penulis: David_Manewus
Editor: Alexander Pattyranie

 

*sumber: http://manado.tribunnews.com/2018/10/31/ini-kata-para-tokoh-yang-membuka-seminar-nasional-pesparani-katolik-di-ambon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *