Menggereja dalam Semangat Patriotisme

admin Uncategorized, Coding another tagyadaa yadaa
0

Santo Agustinus dari Hippo meringkas arti penting musik dan lagu (nyanyian) bagi Gereja dengan sebuah ungkapan yang populer hingga sekarang “qui bene cantat, bis orat”. Secara harafiah dapat diartikan: “dia yang bernyanyi dengan baik, sama dengan berdoa dua kali”. Memainkan musik dan menyanyikan lagu untuk memuji Tuhan dapat menggerakan seluruh diri manusia (budi, perasaan, mata, hati, tangan, kaki dan lain-lain) untuk menciptakan harmoni indah dengan sesama.

Pemahaman di atas tentu mendorong umat Katolik di Indonesia untuk lebih menyukuri kesuksesan acara PESPARANI beberapa bulan lalu. Ungkapan syukur itu tampak jelas dalam Musyawarah Nasional Lembaga Pembinaan dan Pengembangan PESPARANI Katolik Nasional (LP3KN) di Jakarta. Perhelatan besar ini dilakukan dalam rangka meningkatkan soliditas organisasi sekaligus guna mempersiapkan  Pesparani II.

Sebagaimana diketahui bahwa dalam usianya yang masih sangat muda, LP3KN telah berhasil menyelenggarakan perhelatan bersekala nasional berupa penyelenggaraan Pesparani I yang berlangsung di kota Ambon pada tanggal 27 Oktober – 1 November 2018. Pengalaman pada perhelatan itu  telah memberi pembelajaran dan penambah wawasan bagi peserta, panitia, dan para juri.

Pengalaman itulah yang hendak dipetik dan didiskusikan  oleh para stakeholder seperti, LP3KN, LP3KD, utusan Keuskupan dan Dirjen Bimas Katolik. Diskusi mengenai hal itu terlihat pada pandangan umum berbagai daerah yang disampaikan oleh para pengurus dan utusan LP3KD dari berbagai daerah di nusantara.

Perhelatan besar ini dilakukan dalam rangka meningkatkan soliditas organisasi sekaligus guna mempersiapkan  Pesparani II.

Ketua Umum LP3KN Prof. Adrianus Meliala, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukurnya bahwa dalam usia yang relatif muda LP3K telah sampai pada posisinya saat ini. “Suatu yang sulit terbayangkan beberapa waktu yang lalu ketika Mgr. Suharyo menugaskan kami” kenang Adrianus.

“Kemampuan kita untuk merangkak  mendaki bukit tantangan di usia belia ini sungguh merupakan kebanggaan sekaligus menjadi modal kuat dan sumber motivasi dalam melaksanakan tugas perjuangan kita ke depan” lanjut Adrianus.

Sementara itu, Mgr. Suharyo dalam sambutannya mengingatkan para peserta untuk tetap menjaga dan memelihara rasa cinta tanah air. Tak kenal lelah dan tanpa pamrih para tokoh terdahulu seperti Soegijapranata dan I.J. Kasimo telah memberikan contoh dan tuntunan untuk kita dalam mengabdi bagi Gereja dan Negara (pro ecclesia et patria). Setelah mengajak peserta kembali mengenang legasi tokoh Katholik dari berbagai bidang pengabdian, Mgr. Suharyo mengajak para peserta menyanyikan lagu “Rayuan Pulau Kelapa”. Para peserta larut dalam buayan lagu, mereka bernyanyi sambil melambai-lambaikan tangan.

Musyawarah Nasional yang berlangsung 12 – 14  Juli 2019  ini telah menjadi ajang silaturahmi para peserta setelah berpisah sejak November 2018 lalu. “Iringilah kemampuan bernyanyi dengan rasa cinta tanah air. Ungkapan syukur beriring patriotisme”. Semangat ini mengemuka di sepenjang pelaksanaan Munas dan diharapkan menjadi spirit pelaksanaan PESPARANI II yang akan datang.

Read more at https://www.indonesiana.id/read/134015/menggereja-dalam-semangat-patriotisme#txu5FMVaaHtPs31w.99

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *