Menteri Agama: Pesparani Sebaiknya Dua Tahun Sekali

admin Uncategorized, Coding another tagyadaa yadaa
0

 

Pertemuan Panitia Pesparani 2018 dengan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin terpaksa dipercepat setengah jam. Sebab Lukman mendapat tugas mendadak untuk mendampingi Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta pada Jumat, (18/5) lalu.

Berkaitan dengan perubahan ini Lukman minta maaf kepada rombongan yang terdiri dari Panitia Pelaksana Pesparani, pengurus Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik Nasional (LP3KN), Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi, dan para tokoh agama dari Maluku. “Saya mohon maaf atas hal ini. Tapi yang jelas, tidak mengurangi tekad dan dukungan kami dari Kementerian Agama untuk suksesnya Pesparani yang akan diadakan Oktober mendatang”, ujar Lukman.

Lukman mengakui bahwa Maluku telah memiliki pengalaman dalam menyelenggarakan kegiatan agama tingkat nasional, seperti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) untuk umat Islam tahun 2012 dan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) untuk umat Protestan tahun 2015. “Kegiatan ini bukan hanya ditunjukkan kepada bangsa Indonesia saja tetapi juga dunia bahwa kedamaian dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia memang begitulah adanya. Memang karakter bangsa kita yang hidup berdampingan meskipun berbeda keyakinan agama”.

Mengingat Pesparani memiliki perananan strategis dalam pembangunan bangsa dan negara, Lukman menganjurkan agar Pesparani diadakan dua tahun sekali, bukan tiga tahun sekali. “Kalau bisa dipercepat dua tahun sekali. Karena Pesparani tidak hanya dilihat dari penyelenggarannya saja. Dari segala persiapannya memiliki implikasi dalam penguatan umat untuk memahami agamanya. Banyak sisi-sisi positif yang dapat kita dapatkan lewat ajang ini.”

Berikut tanya jawab Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin usai pertemuan dengan Panitia Pesparani yang berlangsung di Kementerian Agama, Jakarta:

Mengapa mengusulkan Pesparani dari tiga tahun menjadi dua tahun?

Ya, supaya semakin dekat. Kalau tiga tahun kan terlalu lama. Kalau dua tahun semakin cepat frekwensi mempersiapkan Pesparani di setiap daerah. Baik tingkat provinsi, kabupaten, atau kota.

Dalam persiapan itu kan ada pertemuan-petemuan. Lewat pertemuan-pertemuan itu disampaikan nilai-nilai ajaran agama. Sebab yang diperlombakan itukan esensi pelajaran agama itusendiri. Jadi semakin  dekat frekwensi penyelenggaraan Pesparani satu dengan yang lain, langsung atau tidak langsung, akan memperbanyak pendalaman ajaran agama itu sendiri.

Akhirnya menjadi bagian hidup umat?

Iya. Jadi itu harapannya. Pesparani jangan hanya dilihat sebagai ajang lomba antarutusan daerah tetapi harus juga dilihat bagaimana persiapan-persiapan yang melatarbelakanginya. Bagaimana kesungguhan para pesertanya, lingkungan tempat mereka latihan, dll. Bila semakin cepat Pesparani diadakan maka umat semakin terbiasa mendengarkan firman dan ajaran Tuhan. Dengan demikian nilai-nilai kebajikan itu semakin tertanam di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat yang agamis itulah yang menjadi harapan kita.

(A. Bobby Pr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *