Pesparani I Harus Bawa Pesan Persaudaraan dan Kerukunan

admin Berita, Coding another tagyadaa yadaa
0

Ambon – Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional Pertama di Kota Ambon harus membawa pesan perdamaian dan kerukunan ke seluruh bangsa Indonesia. Peserta ini tidak boleh hanya memandang Pesparani sebagai perlombaan semata, tetapi Pesparani harus dipandang sebagai perlombaan yang menyuarakan persaudaraan, kerukunan dan semangat persatuan dan kebhinekaan.

Hal ini disampaikan oleh Gubernur Maluku Said Assagaff, Uskup Ambonia Mgr Petrus C Mandagi dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise di acara penutupan Pesparani I di Lapangan Merdeka, Kota Ambon, Kamis (1/11) malam.

Said mengatakan api persaudaraan dan kerukanan sudah terwujud dalam pelaksanaan Pesparani I di Ambon. Pesparani, kata dia, tidak hanya menjadi pesta umat Katolik, tetapi menjadi pesta bersama umat lintas agama.

“Sejarah mencatat bawah api injil Pesparani telah terwujud di Ambon. Semangat persaudaraan tidak boleh berhenti di sini. Peserta Pesparani harus wartakan dan wujudkan di daerah masing-masing bahwa hidup bersaudara lintas agama sangat indah,” ujar Said dalam sambutannya.

Said mengatakan, apapun hasil perlombaan Pesparani I, semuanya harus berpihak pada persuadaraan dan kerukunan. Pasalnya, melalui Pesparani I, telah didemonstrasikan bagaimana hidup bersaudara membuat umat beragama semakin cerdas, toleran dan rukun.

“Hidup ‘orang basudara’ menjadi umat beragama yang cerdas, tidak mudah dibodohi oleh politisasai agama demi kepentingan orang dan kelompok orang tertentu. Ini membuat ke depan, Indonesia tetap menjadi rumah bersama umat beragama,” ungkap dia.

Problem ikatan persaudaraan selama ini, kata Said, terdistorsi oleh masalah pertarungan di ranah politik dan ekonomi. Bahkan, kata dia, tidak sedikit masyarakat yang mengidap penyakit double standart atau standar ganda, ketika bersama atau ada maunya maka bicara sangat nasionalis, pluralis dan egaliter. Namun, ketika tidak bersama menjadi sangat primordialis.

“Orang Ambon bilang Labila atau lapar bicara laeng dan kabila atau kenyang bicara laeng. Semoga bangsa kita terhindar dari penyakit double standart ini,” imbuh dia.

Senada dengan itu, Uskup Ambonia Mgr Petrus C Mandagi menuturkan bahwa Pesparani merupakan pesta iman yang membuat orang bergembira dan tidak takut mewartakan persaudaraan, cinta kasih, kerukunan dan persatuan.

“Apa yang saudara alami di Kota Ambon dalam acara Pesparani harus ada wartakan ke daerah masing-masing bahwa dengan bernyanyi, saudara bisa mewartakan kasih Tuhan, menyampaikan persuadaraan dan perdamaian,” pesan Uskup Mandagi kepada seluruh peserta Pesparani dari 34 Provinsi.

Sementara Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise kembali mengulang pesan Presiden Jokowi untuk umat Katolik. Jokowi, kata Yohana meminta umat Katolik terus terlibat dalam menjaga, merawat dan melestarikan keanekaragaman atau kebhinekaan.

“Kebhinekaan merupakan kekayaan bangsa yang besar. Persatuan, kerukunan dan persaudaraan yang harus kita pertahankan akan membawa Indonesia menjadi negara yang besar dan sangat dihormati di dunia. Tanpa itu, sulit membangun Indonesia,” kata Yohana.

Sebagai lembaga yang konsen pada isu-isu perempuan dan anak, Yohana berpesan agar Pesparani lebih memberdayakan perempuan dan anak dalam berbagai aktvitas dan perempuan. Dia berharap perempuan dan anak tidak dijadikan obyek, tetapi menjadi subyek dalam berbagai aktivitas Pesparani untuk memuliakan Tuhan dan membangun bangsa.

“Kami juga bersedia membuka diri untuk bermitra dengan Pesparani khusus memberdayakan perempuan dan anak lewat nyanyi,” pungkas dia.

Dalam acara penutupan Pesparani I, selain Gubernur Said, Uskup Mandagi dan Menteri Yohana, hadir juga Wakil Gubernur Maluku yang sekaligus Ketua Umum Panitia Zeth Sahuburua, Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi, Sekjen KWI Mgr. Antonius Subianto Bunyamin, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus, Uskup Palangkaraya Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, Ketum Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN) Adrianus Meleila serta pejabat kota Ambon dan para tokoh lintas agama.

Sebagaimana diketahui, Pesparani Katolik Pertama diselenggarakan di Kota Ambon, Maluku selama sepekan, dari 27 Oktober 2018 hingga 1 November 2018. Dalam acara ini, diadakan 12 mata lomba, yang terdiri dari Paduan Suara, Cerdas Cermat, Baca Mazmur dan Bertutur Kitab Suci. Lomba ini diikuti oleh kontingen dari 34 Provinsi dari Aceh sampai Papua.

Selain perlombaan paduan suara, acara Pesparani akan diisi dengan seminar nasional, Expo Maluku 2018 (pemeran potensi dari 34 daerah) dan pentas seni dari masing-masing daerah.

Peserta lomba Pesparani berjumlah berjumlah 4.804 orang, undangan yang hadir 200 orang pendukung acara 989 orang, peserta ibadah, dewan juri, panitia pusat dan daerah, serta para penggembira kurang lebih 4.490 orang. Total yang hadir di acara Pesparani kurang lebih 12.000 orang.

Acara ini diselenggarakan oleh LP3KN dan panitia lokal di Maluku. LP3KN adalah lembaga yang direstui oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan difasilitasi oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan Pesparani secara periodik.

 

*sumber: http://www.beritasatu.com/nasional/520121-pesparani-i-harus-bawa-pesan-persaudaraan-dan-kerukunan.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *